Boleh Berhias, Tapi … (Etika Berhias Wanita Muslimah)

Berhias, satu kata ini biasanya amatlah identik dengan wanita. Bagaimana tidak, wanita identik dengan kata cantik. Guna mendapatkan predikat cantik inilah, seorang wanita pun berhias. Namun tahukah engkau …


Berhias, satu kata ini biasanya amatlah identik dengan wanita. Bagaimana tidak, wanita identik dengan kata cantik. Guna mendapatkan predikat cantik inilah, seorang wanita pun berhias. Namun tahukah engkau wahai saudariku muslimah, bahwa Islam telah mengajarkan pada kita bagaimana cara berhias yang syar’i bagi seorang wanita? Sungguh Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak sepenuhnya melarang seorang wanita ‘tuk berhias, justru ia mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan, apalagi merendahkan martabat wanita itu sendiri.
Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, sesungguhnya Allah ta‘ala berfirman
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31).
Dari ayat di atas, tampaklah bahwa kebolehan untuk berhias ada pada laki-laki dan wanita. Namun ketahuilah saudariku, ada sisi perbedaan pada hukum sesuatu yang digunakan untuk berhias dan keadaan berhias antara kedua kaum tersebut. Dalam bahasan ini, kita hanya mendiskusikan tentang kaidah berhias bagi wanita.
Larangan Tabarruj
Adapun kaidah pertama yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak berhias adalah hendaknya ia menghindari perbuatan tabarruj. Tabarruj secara bahasa diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Di antara maknanya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan. Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” (Fathul Qadiir karya asy- Syaukani).
Allah ta‘ala berfirman (yang artinya),
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu …” (QS. Al-Ahzaab, 33: 33).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa‘di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Arti ayat ini: janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini dalam rangka mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya” (Taisiirul Kariimir Rahmaan karya Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa‘di).
Memperhatikan Masalah Aurat
Kaidah kedua yang hendaknya engkau perhatikan wahai saudariku, seorang wanita yang berhias hendaknya ia paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan. Aurat sendiri adalah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup, atau setiap apa yang dirasa memalukan apabila nampak, atau apa yang ditutupi oleh manusia karena malu, atau ia juga berarti kemaluan itu sendiri (al-Mu‘jamul Wasith).
Lalu, mana saja anggota tubuh wanita yang termasuk aurat? Pada asalnya secara umum wanita itu adalah aurat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).
Namun terdapat perincian terkait aurat wanita ketika ia di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, di hadapan wanita lain, atau di hadapan mahramnya.
Adapun aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Hal ini sudah merupakan ijma‘ (kesepakatan) para ulama. Hanya saja terdapat perbedaan pendapat diantara ulama terkait apakah wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat jika di hadapan laki-laki non mahram.
Sedangkan aurat wanita di hadapan wanita lain adalah anggota-anggota tubuh yang biasa diberi perhiasan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ
“Tidak boleh seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan tidak boleh seorang wanita melihat aurat wanita lainnya” (Hadits shahih Riwayat Muslim, dari Abu Sa‘id al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu).
Syaikh al-Albani mengatakan, “Sedangkan perempuan muslimah di hadapan sesama perempuan muslimah maka perempuan adalah aurat kecuali bagian tubuhnya yang biasa diberi perhiasan. Yaitu kepala, telinga, leher, bagian atas dada yang biasa diberi kalung, hasta dengan sedikit lengan atas yang biasa diberi hiasan lengan, telapak kaki, dan bagian bawah betis yang biasa diberi gelang kaki. Sedangkan bagian tubuh yang lain adalah aurat, tidak boleh bagi seorang muslimah demikian pula mahram dari seorang perempuan untuk melihat bagian-bagian tubuh di atas dan tidak boleh bagi perempuan tersebut untuk menampakkannya.”
Adapun tentang batasan aurat seorang wanita di hadapan mahramnya, secara garis besar ada dua pendapat ulama yang masyhur (populer) tentang batasan ini. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah sama dengan aurat wanita di hadapan wanita lain, yakni semua bagian tubuh kecuali yang biasa diberi perhiasan.
Penulis mencukupkan diri dengan pendapat yang lebih rajih (kuat) dari Syaikh al-Albani bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah sama sebagaimana aurat wanita di hadapan wanita lain, yakni seluruh tubuhnya kecuali bagian-bagian yang biasa diberi perhiasan.
Dalilnya adalah firman Allah ta‘ala yang artinya,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakka perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka,atau wanita-wanita mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.’” (QS. An-Nuur, 24: 31).
Allahu a‘lam.
Adapun untuk aurat wanita (istri) di hadapan suaminya, maka ulama sepakat bahwa tidak ada aurat antara seorang istri dan suami. Dalilnya adalah firman Allah ta‘ala
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٢٩)إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٣٠)
“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.”  (QS. Al-Ma‘aarij, 70: 29-30)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang suami dihalalkan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar memandangi perhiasan istrinya, yaitu menyentuh dan mendatangi istrinya. Jika seorang suami dihalalkan untuk menikmati perhiasan dan keindahan istrinya, maka apalagi hanya sekedar melihat dan menyentuh tubuh istrinya.
Memperhatikan Cara Berhias yang Dilarang
Maka jika sudah tak ada lagi aurat antara suami dan istri, hendaknya seorang wanita (istri) berhias semenarik mungkin di hadapan suaminya. Seorang istri hendaknya berhias untuk suaminya dalam batasan-batasan yang disyari‘atkan. Karena setiap kali si istri berhias untuk tampil indah di hadapan suaminya, jelas hal itu akan lebih mengundang kecintaan suaminya kepadanya dan akan lebih merekatkan hubungan antara keduanya.
Hal ini termasuk diantara tujuan syari‘at. Bukankah salah satu ciri istri yang baik adalah yang menyenangkan ketika dipandang, wahai saudariku? Adapun bentuk-bentuk berhiasnya bisa dengan bermacam-macam. Mulai dari menjaga kebersihan badan, menyisir rambut, mengenakan wewangian, mengenakan baju yang menarik, mencukur bulu kemaluan, dll.
Namun yang hendaknya dicamkan seorang istri adalah hendaknya ia berhias dengan sesuatu yang hukumnya mubah (bukan dari bahan yang haram) dan tidak memudharatkan. Tidak diperbolehkan pula untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:
  • Menyambung rambut (al-washl)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Menato tubuh (al-wasim), mencukur alis (an-namsh), dan mengikir gigi (at-taflij)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Mengenakan wewangian bukan untuk suaminya (ketika keluar rumah)Baginda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.” (Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu)
  • Memanjangkan kukuNabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  •  Berhias menyerupai kaum lelaki“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.” (Riwayat Bukhari). Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi.
Wahai Saudariku, sungguh Allah ta‘ala yang mensyari‘atkan hukum-hukum dalam Islam lebih mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi para hamba-Nya dan Dia-lah yang mensyari‘atkan bagi mereka hukum-hukum agama yang sangat sesuai dengan kondisi mereka di setiap zaman dan tempat. Maka, sudah sepantasnya bagi kita wanita muslimah untuk taat lagi tunduk kepada syari‘at Allah, termasuk di dalamnya aturan untuk berhias.
***

Artikel Buletin Zuhairah
Penulis: Nurul Dwi Sabtia S.IP
Murajaah: Ustadz Adika Minaoki

Maraji’:
  • Al-Albani, Syaikh Muhammad Nashiruddin. Adaab az-Zifaaf [Terj]. Media Hidayah.
  • Majmu‘ah Minal ‘Ulama. Fatwa-Fatwa Tentang Wanita. Darul Haq.
  • Syabir,Dr. Muhammad Utsman. Fiqh Kecantikan. Pustaka at-Tibyan.
  • Razzaq, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir. Panduan Lengkap Nikah dari “A” Sampai “Z”. Pustaka Ibnu Katsir.
  • Al-‘Utsaimin,Syaikh Muhammad. Shahih Fikih Wanita. Akbar Media



"KETIKA SEORANG WANITA TELAH MENIKAH"

["KETIKA SEORANG WANITA TELAH MENIKAH"]

❥ Ketika telah menikah,seorang wanita tidak lagi menjadi milik ibu bapaknya, melainkan menjadi milik suaminya sepenuhnya.
❥ Ia wajib taat dan berbakti serta melakukan apa pun yang menjadi keinginan suaminya serta tidak boleh sekalipun berkata tidak jika memang perintah suaminya tersebut tidak melanggar syariat Islam.
❥ Intinya, setiap hari hanyalah kepatuhan yang ada, Kepatuhan istri kepada suaminya.
❥ Dan kepatuhan ini, dihargai oleh ALLAH sebagai jihadnya para wanita.
❥ Siapa pun wanita sholehah yang taat kepada ALLAH dan juga mentaati perintah suaminya.
Maka ia adalah wanita sholehah, yang baginya surga serta dipersilakan masuk dari pintu mana saja yang mereka kehendaki.
❥ SubhanALLAH.
❥ Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
❥ Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu,berpuasa di bulan ramadhan,dan menjaga kemaluannya dari mengerjakan perbuatan haram dan dia TAAT kepada suaminya.
Maka akan di persilahkan ia masuk ke Syurga dari pintu manasaja yang ia kehendaki.
(HR. Ahmad dan Thabrani).
❥ Semoga para wanita yang hadir di sini menjadi Wanita atau Istri yang Sholehah,kelak masuk surga dari pintu manasaja yg ia kehendaki InsyaAllah Ta'ala Aamiin Ya Rabbal'alaamiin.

Istrimu di Neraka


BACA JUGA ; Kisah Istri Sholihah Yang Dimadu (Menakjubkan)

Teringat akan kisah seorang istri yang sangat solehah. Ibadahnya rajin, melayani suaminya seperti seorang raja.  Tutur katanya halus dan budi pekertinya luar biasa.  Hal itu membuat suaminya merasa aman dan tentram hidup bersamanya. Kepercayaan sang suami terhadap istrinya yang akan tetap bersabar atas segala perilakunya, membuat suami merasa mendapatkan kebebasan untuk berbuat apapun.

                Sang suami mulai berulah dengan melirik wanita lain.  Ketika istrinya mengetahui, dengan bahsa syurga, sang aistri malah menawarkan untuk pologami. Kemudian dengan langkah tenang dan tanpa sedikitpin terbebani atas keberatan istri, akhirnya suami benar-benar menikahi wanita lain. Batin sang istri seolah mulai terasa kacau.  Kini praduga negatifnya mulai sering berwacana. Berasumsi bahkan menilai salah atas tindak-tanduk suaminya, apalagi jika berhubungan dengan istri mudanya.  Suami menyadari akan paradigma istri pertamanya itu. Namun harus bagaimana lagi, wong wanita itu juga kini memiliki status dan derajat yang sama sebagai istrinya.  Dimana suami harus bersikap adil dan bijaksana dalam menghadapi dua karakter istrinya yang berbeda.

              Namun disaat paradigma yang salah dan asumsi buruk serta kekawatiran yang berlebih dari istri pertama membuat ia merasa tersisihkan.  Padahal tidak demikian hakikatnya.
Di saat itulah, ada seorang laki-laki yang memberi perhatian kepadanya, padahal perhatian itu sebenarnya tak lebih baik dari suaminya. Istri solehah tersebut terbuai dan jatuh dalam pengkhianatan cinta abadi.

              Mulai memberi perhatian dengan lelaki haram lewat telepon bahkan menyempatkan untuk melakukan sebuah pertemuan meski tak ada perzinaan dalam pertemuan itu.  Namun keadaan itu telah membuat eluruh malaikat bergunjing lalu meludah lantaran muak melihat istri sholehah tersebut.  Apalagi para malaikat penjaga langit, mereka sempat tutup hidung karena tak tahan dengan bau busuk nafas kehidupan wanita pengkhianat yang padahal adalah seorang istri yang taat beribadah.

            Para malaikat penjaga bumi memberitahukan pengkhianatan sang istri kepada suaminya.  Begitu pula para malaikat penjaga langit, mengabarkan pada suaminya bahwa istrinya yang solehahnya itu kelak akan menghuni neraka yang paling keji. Cuma karena sang suami juga sebetulnya adalah seorang yang faham akan ilmu agama, ia membela istri pertamanya di hadapan seluruh malaikat.

             Wahai para tangan-tangan Allah, bukankah penghianatan yang dulakukan istriku adalah merupakan kebiasaan banyak wanita di atas muka bumi ini lantaran kecewa?"
"Benar wahai suami. Namun perlu kau ketahui, bahwa penghianatan yang dilakukan oleh istrimu itu membuktikan bahwa sifat asal dan watak dasar istrimu itu adalah seorang pengkhianat. Dia bisa sujud di kakimu bukan karena benar-benar memahami bahwa suami adalah seorang yang patut dimuliakan oleh seorang istri, melainkan karena kecukupan yang kau miliki.  Sebab kesolehan wanita yang sejati hanya berangkat dari ilmu dan iman.  Sulit membedakan wanita yang benar-benar sholeh pada saat sang suami memiliki kecukupan. Bisa jadi ia melakukan kesolehan sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan agar tetap bisa menikamti hidup layak. Wanita yang benar-benar sholeh adalah wanita yang tahu benar bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya.  Ia mengerti benar bahwa sebejat apapun perbuatan suaminya tidak akan mampu menyeret dirinya ke dalam neraka.  Tidak ada dosa yang dapat ditranfer.  Sehingga ia akan tetap mengabdi dan berbakti serta melayani suaminya bagaikan raja  meski bagaimanapun buruknya akhlaq suami .

            Justru, pada saat suami telah sangat menyakitinya, namun ia tetap istiqomah dan setia, maka Allah semakin ingin mendekat dengan istri tersebut dan memeluk sebagai kekasih. Pengabdian dan kesetiaan yang tak luntur oleh perbuatan durjana seorang suami.  Kemerdekaannya tersembunyi di balik kata cerai dari sang suami, meskipun ia tak menantikannya.

             Tiba-tiba, Izrail mendapat perintah dari Allah untuk segera mencabut nyawa istri selingkuh yang taat beribadah itu, lantaran telah membuat seluruh malaikat penduduk langit dan bumi menjadi resah. Hidupnya berakhir dalam keadaan hatinya menyimpan khianat kepada suami. Bergegas saja malaikat Zabaniyah mengeksekusinya dan mencabik-cabik seluruh isi hatinya yang telah busuk karena pengkhianatan.
Naudzubillah...



Sumber: Al Irsyad

TAUBATNYA PELACUR KELAS KAKAP

TAUBATNYA PELACUR KELAS KAKAP




Menjual barang dagangan sebagai profesi hidup itu sangat baik, bahkan amat dianjurkan oleh agama. Bagaimana jika ia menjual diri? Profesi pelacur alias menjual diri jelas sangat tidak boleh dan diharamkan oleh Allah. Dengan dalih apapun, profesi haram ini tidak boleh dilakoni. Tidak saja merupakan aib bagi masyarakat tapi juga dilaknat oleh Allah. Kecuali ia bertaubat dan bersungguh-sungguh untuk tidak kembali lagi kepada jalan yang salah, Allah pasti akan mengampuninya.

Kisah berikut ini salah satu contohnya. Ia adalah seorang pelacur kelas kakap pada masanya. Mulai dari kalangan biasa hingga pejabat pernah menjadi langganannya. Kemudian ia bertaubat dan menginsyafi segala perbuatannya setelah bertemu dengan seorang tentara yang saleh dan baik hati. Kini, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan banyak mengikuti pengajian dari satu mushala ke mushala lain. Subhanallah!

Sebut saja namanya Intan. Sebagai seorang perempuan ia sebenarnya sangat beruntung. Wajahnya cantik dengan tubuh semampai dan berkulit kuning langsat. Di antara tiga saudaranya yang perempuan dari lima bersaudara, ia termasuk anak yang paling cantik. Ia pun menjadi kejaran banyak lelaki mulai dari mengajaknya kencan, iseng-iseng saja hingga menikah.

Salah satu lelaki yang beruntung mendapatkan Intan adalah Anto. Sebagai lelaki, Anto sebenarnya tidak memiliki keistimewaan apapun, selain hanya wajah lumayan ganteng, badan tinggi dan kekar serta kulit yang agak kuning. Selebihnya, dia tidak memiliki kelebihan apapun untuk bisa dibanggakan. Sekolah saja hanya lulusan SD.

Entahlah, rayuan apa yang dikeluarkan oleh Anto kala itu sehingga bisa menaklukkan hati Intan. Padahal, pada saat yang bersamaan, ada laki-laki lain yang sebenarnya lebih mapan dan berpendidikan hendak meminangnya. Mungkin begitulah jodoh!

Intan akhirnya menikah dengan Anto. Bulan-bulan pertama pernikahan, mereka begitu bahagia hingga mereka memiliki anak yang gemuk, sehat dan kulitnya kuning seperti ibunya. Dari ronanya, anak yang kemudian diberi nama Zaenab tersebut sepertinya hendak mewarisi kecantikan ibunya.

Intan dan Anto melalui hari-harinya pun dengan sangat bahagia, hingga kemudian persoalan penting muncul. Anto yang sejak awal menikahi Intan berjanji akan menjadi suami yang baik mulai berubah. Ia mulai suka keluar malam dan bergaul dengan teman-teman yang tidak baik. Itu tidak menjadi persoalan jika Anto adalah lelaki yang bertanggung jawab. Anto adalah suami yang pengangguran.

Sebelum punya anak, Intan masih memakluminya jika suaminya belum bekerja. Sebab, mencari pekerjaan itu tidak gampang. Tapi, sang bayi telah lahir dan itu membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak untuk menunjang keluarga mereka termasuk susu buat bayi dan sebagainya. Rupanya Anto tidak mengerti akan hal ini. Ia malah lebih senang berada di luar, hingga ia terjebak dalam pesta mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

Pada puncaknya, Intan tidak tahan lagi tepatnya saat Zaenab berusia tiga tahun. Kehadiran suami tidak membawa berkah apapun –malah menyusahkan dan merepotkan. Sebab, sudah tidak bertanggung jawab tapi kebutuhannya masih ingin dipenuhi seperti menyucikan pakaiannya, memenuhi hasrat seksnya dan sebagainya.

Intan akhirnya bercerai dengan Anto dengan sebuah perpisahan yang tidak mengenakkan alias tidak baik. Zaenab ikut pada ibunya, sementara Anto hidup sendiri dan kembali pada orang tuanya.

Sejak bercerai, kehidupan Intan tidak berangsur baik. Salah satu kelemahan Intan adalah ia tidak terdidik dalam sebuah keluarga yang taat beragama. Ia memang beragama Islam, tapi dalam keluarganya shalat seperti sebuah aktivitas yang asing mereka lakukan.

Dalam kondisi seperti itu, Intan dituntut oleh keadaan yang mengharuskan dirinya punya uang untuk menghidupi anak semata wayangnya, Zaenab. Keadaan ini pun dimanfaatkan oleh makhluk paling durjana di muka bumi yaitu setan. Rayuan setan berhasil merasuk ke dalam otaknya.

Intan bertemu dengan seseorang yang kemudian menawarkannya pekerjaan gampang, nikmat, mendatangkan uang banyak tapi dilaknat Tuhan yaitu pelacur. Awalnya, Intan tentu saja menolak. Tapi, setan terus merayunya. Akhirnya, dorongan ekonomi yang awut-awutan membuatnya terpaksa menentukan pilihan terpahit dalam hidupnya yaitu menjadi pelacur.

Awal-awal menjalani profesinya, Intan masih ogah-ogahan. Tapi, setelah ia sudah kenal uang banyak dari pelanggan yang menikmati tubuhnya yang aduhai, ia pun mulai menikmati profesinya itu. Masa gelap telah berlalu, saatnya tiba hari yang terang benderang bagai bintang gumintang bergantung di angkasa pada malam hari.

Dengan kecantikan memesona setiap lelaki manapun, petualangan cinta terlarang Intan semakin luas saja. Awalnya, lelaki biasa berkantong tipis yang datang, tapi lama-kelamaan pejabat juga kepincut olehnya. “Dalam pengakuannya ada salah satu pelanggannya yang merupakan seorang pejabat,” ujar Kholik, yang merupakan tetangga Intan itu.

Intan semakin terkenal saja sebagai pelacur kelas kakap. Petualangannya pun tidak lagi di tempat-tempat murahan tapi hotel berbintang dan tempat-tempat mewah. Uang pun semakin banyak masuk ke kantongnya. Meski begitu, Intan masih senang hidup ngekos. Ia berpisah dengan saudara-saudaranya karena mereka juga mulai membenci dirinya yang berpofesi sebagai pelacur.

Kost Intan berada di Jl. Lima. Suatu kali Jl. Lima kedatangan seorang tentara yang dapat tugas dari pemerintah di daerah itu dan sekitarnya. Ia ngekost persis di depan kost Intan. Jl. Lima memang berdiri banyak kost. Maklum, daerah di situ merupakan kawasan wisata sehingga bisnis kost-kostan ini termasuk menggiurkan.

Kost Intan dan kost tentara itu hanya dibatasi oleh jalan lima itu sendiri. Intan pergi bekerja setiap jam 18.00 WIB, sedang tentara yang ternyata bernama Halim itu selalu pulang dari tugasnya jam 18.00. Jadi, saat Intan pergi Halim pulang. Mereka pun kerapkali berpapasan di Jl. Lima tersebut.

Sebagai seorang lelaki, wajah Halim sebenarnya tidak terlalu jelek. Kulitnya sawo matang khas warna kulit melayu dan tubuhnya lumayan kekar. Tapi, kelebihan Halim sebagai lelaki adalah ia anak yang saleh. Shalatnya rajin dan berasal dari keluarga yang taat beragama. Meski kedua orang tuanya bukan kiayi atau ustadz, tapi mereka sudah berhaji. Jadi, agama benar-benar tertanam dalam keluarga Halim.

Halim termasuk orang yang murah senyum. Ia juga tidak arogan, meski dirinya seorang tentara. Setiap kali bertemu dengan orang ia selalu menyapanya dan tersenyum. Begitu juga saat pertama kali bertemu dengan Intan. Ia menundukkan tubuhnya sambil tersenyum, meski mereka tidak saling kenal. Intan pun demikian. Ia membalasnya layaknya orang yang sedang disapa.

Begitulah hari-hari seterusnya. Mereka seringkali berpapasan saat Halim pulang dari kerjanya dan Intan pergi untuk menjual diri. Makin lama Halim penasaran dengan ulah Intan yang seringkali pergi saat adzan Maghrib bergema. Awalnya ia menyadari mungkin Intan sedang datang bulan, tapi hal itu berkali-kali ia melihatnya. Penasaran ingin tahu lebih banyak tentang sosok Intan pun tertanam dalam pikiran Halim. Apalagi ditambah wajah Intan yang cantik, membuat Halim penasaran ingin mengetahui sosok perempuan itu lebih jauh.

Intan sendiri sebenarnya mulai penasaran dengan sosok tentara itu. Setiap kali bertemu, lelaki itu sopan sekali dan selalu mengumbar senyum kepadanya. Senyumnya yang manis begitu menggodanya. Dalam hatinya pun sebenarnya ingin berkenalan dengan Halim. Tetapi, merasa kelasnya sudah tinggi sebagai pelacur ia pun gengsi. “Jika ia butuh, nanti juga datang.” Begitu pikir Intan saat itu.

Betul saja, Halim akhirnya bertandang ke kost Intan di suatu siang hari –kebetulan Halim sedang tidak bertugas dan Intan sendiri kalau siang ada di rumah. Intan pun merasa menang ketika melihat Halim datang bertamu ke kostnya.

Mereka pun ngobrol dengan bebas. Halim memperkenalkan dirinya, begitu pun Intan. Pertemuan pertama di kost Intan itu dilalui Halim dengan lancar. Ia pun mulai tahu siapa Intan. Di mata Halim, Intan adalah sosok gadis yang lembut, tidak nakal, dan sopan.

Halim rupanya tertipu oleh penampilan anggun Intan saat itu. Ia tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang berhadapan dengan seorang pelacur kelas kakap yang suatu saat bisa saja menyantapnya habis-habisan.

Pertemuan pertama di kost Intan itu pun sangat membekas di hati Halim. Hal ini membuatnya ketagihan. Saat ia tidak ada tugas, ia pun menyempatkan diri bertamu ke kost Intan. Intan sendiri menyambutnya dengan hangat. Sebab, dalam hati Intan sendiri sebenarnya sudah menaruh rasa kagum sama Halim. Gagah, sopan, murah senyum, dan baik hati. Setiap perempuan pasti suka kepadanya.

Suatu ketika Halim bertamu kembali. Entahlah, ini pertemuan yang ke berapa. Rupanya, pada pertemuan kali ini Halim ingin mengutarakan sesuatu. Jika tidak, itu akan membuat hatinya tersiksa.

“Tan. Aku sudah mengenalmu cukup jauh meski baru beberapa kali bertemu. Aku suka padamu. Aku cinta pada-Mu, Tan.” Ujar Halim blak-blakan penuh keberanian.

Mendengar ucapan cinta yang spontan dari Halim, Intan pun kaget. “Kamu belum tahu lebih banyak tentang saya. Kamu pasti menyesal nanti.” Ujar Intan yang mulai b erusaha terus terang.

“Bagi saya itu sudah cukup.” Jawab Halim.

Merasa tidak ingin menipu Halim, Intan pun berterus terang kalau dirinya sebenarnya seorang pelacur. Telah banyak lelaki yang masuk dalam perangkap kecantikannya. Selama ini dirinya tidak terlalu serius menanggapi Halim –meski dalam hatinya juga kagum, itu karena profesinya yang seorang pelacur.

Halim sangat kaget dan nyaris tidak percaya. Apalagi, setelah ia tahu bahwa Intan juga sudah punya anak yang kini bersama kedua orang tuanya di rumah.

Usai mendengar kejujuran Intan, Halim pun minta pamit. Ia kembali ke kostnya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Intan. Ia menyesali nasib yang digariskan Tuhan untuk Intan. Kenapa orang secantik Intan harus menjadi seorang pelacur? Apa sebabnya? Kenapa pula ia harus ditakdirkan bertemu dengan perempuan kotor seperti dia?

Halim benar-benar tersiksa batinnya. Ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil air wudhu. Di atas sajadah ia mengumandangkan takbiratul ihram dan bersedekap. Rupanya ia sedang menunaikan shalat istikharah untuk mendapatkan jawaban rasa gelisah yang menerpanya begitu kuat.

Berhari-hari ia melakukannya, hingga kemudian ia mendapatkan sebuah jawaban yang baginya itu adalah yang paling benar –meski keluarganya mungkin akan menolaknya. “Halim sudah terlanjur kepincut dan jatuh hati kepada Intan. Ia ingin menikahi perempuan itu,” ujar Kholik.

Halim segera bangkit dari lamunannya. Shalat istikharah membuatnya memiliki satu jawaban pasti untuk segera menyelamatkan Intan dari jalan yang salah. Kini, ia tidak lagi mengejar kecantikan Intan untuk dijadikan istri, tapi lebih pada persoalan dakwah Islam. Menikahi Intan sama saja dirinya sedang berdakwah, mengajak orang kembali kepada jalan yang diridhai Allah.

Suatu kali Halim datang kembali ke kost Intan dan menyatakan kesungguhannya untuk menikahinya. Tapi, Intan tidak langsung menjawab. Ia meminta waktu untuk berpikir dan merenung. Jika saat itu tiba, ia pasti akan mendatangi kost Halim dan memberikan jawabannya.

Benar saja. Intan lalu mendatangi kost Halim pada malam hari. Malam itu sengaja ia tidak bekerja demi seorang tentara yang telah mengusik hatinya beberapa hari ini. Melihat Intan datang, Halim kaget. Di depan Halim, Intan pun menanyakan kembali keseriusan Halim untuk menikahinya, “Kamu yakin ingin menikahi saya dan mau menerima saya apa adanya.”

“Yakin, Tan.”

“Saya minta syarat. Jika kelak kita berumah tangga, kamu jangan mengungkit-ungkit masa lalu saya.”

Halim setuju dengan syarat yang diajukan Intan. Mereka pun akhirnya menikah. Sejak itu, Intan meninggalkan profesinya yang sebenarnya sedang berada di puncak dan mendatangkan uang banyak. Ia lebih memilih Halim, seorang tentara baik hati dan saleh yang telah menaklukkan hatinya. Padahal, sebelumnya sudah banyak lelaki yang serius ingin menikahi Intan meski ia seorang pelacur. Tetapi, Intan selalu menolaknya. Pada seorang tentara bernama Halim ini, ia melabuhkan cinta terakhirnya dalam sebuah mahligai pernikahan yang indah.
Masya Allah!

Halim tampak bahagia usai menikahi Intan. Tugasnya untuk menyelamatkan Intan dari jalan yang salah akhirnya berhasil. Pertentangan dari keluarga Halim seperti diduga sebelumnya ternyata tidak ada. H. Ismail dan Hj. Aisyah, orang tua Halim, menyadari keinginan Halim untuk menikahi Intan karena sebuah tugas yang mulia itu. Mereka pun meridhai pernikahan anaknya dengan seorang pelacur itu.

Kini, Intan menjadi istri yang bertanggung jawab. Halim sendiri sekarang telah pensiun dan menjadi purnawirawan. Perkawinan Halim dan Intan tidak dikaruniai anak hingga sekarang. Zaenab sendiri sudah besar dan sedang kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di luar Jawa.

Perubahan yang paling kental dari Intan setelah dinikahi Halim adalah ia suka pergi dari satu mushala ke mushala lain di kampungnya untuk mengikuti pengajian. Kesungguhan Intan untuk bertaubat ini diamini oleh banyak warga. Halim tidak saja berhasil membawa Intan dari jalan yang salah tapi juga telah sukses menanamkan benih-benih agama yang baik pada Intan.
Mereka benar-benar telah menjadi keluarga bahagia, apalagi Zaenab kini telah menjadi seorang mahasiswi yang berprestasi dan berkali-kali mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Sebuah akhir hidup yang manis dan enak untuk dikenang.

Demikian kisah tentang seorang pelacur kelas kakap yang mendadak insyaf dan meninggalkan pekerjaannya setelah bertemu dan diajak menikah oleh tentara yang saleh dan bertanggung jawab. Semoga kita bisa belajar dari kisah ini! Amien

Kisah Istri Sholihah Yang Dimadu (Menakjubkan)

Kisah Istri Sholihah Yang Dimadu (Menakjubkan)





Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”

Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”

Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.

Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.

Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”

Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”

Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.

Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”

Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)

Subhanallah…….

Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-6
9

KISAH SEORANG WANITA KETIKA MANDIKAN MAYAT PELACUR

 Pada zaman Imam Malik, terdapat seorang wanita yang buruk akhlaknya. Dia selalu tidur bersama lelaki dan tidak pernah menolak ajakan lelaki (pelacur). Tiba pada hari kematiannya, ketika mayatnya dimandikan oleh seorang wanita yang kerjanya memandikan mayat, tiba-tiba tangan si pemandi mayat itu terlekat pada batang tubuh jenazah wanita itu.
Picture 1126 (1)
Semua penduduk dan ulama’ gempar akan hal itu.Mana tidaknya, tangan si pemandi mayat terlekat sehingga semua orang di situ mati akal untuk melepaskan tangannya dari mayat wanita terbabit.
Terdapat berbagai cadangan dan pandangan untuk menyelesaikan masalah itu. Akhirnya ada 2 pandangan yang dirasakan sesuai tetapi berat untuk dijalankan.
Pertama, memotong tangan wanita pemandi mayat dan yang kedua pula tanam/kebumikan kedua-duanya iaitu pemandi mayat dan jenazah itu sekali gus.
Oleh kerana kedua-dua cadangan tersebut masih lagi kurang sesuai, salah seorang dari mereka mereka memutuskan untuk meminta pendapat daripada Imam Malik.
Imam Malik bukan calang-calang orang yang memberi fatwa. Apabila Imam Malik sampai dan melihat apa yang berlaku, Imam Malik bertanya kepada wanita pemandi mayat itu :
“Apakah kamu lakukan atau berkata apa-apa kepada si mati semasa memandikannya”?
Perempuan memandikan mayat tersebut bersungguh-sungguh menjawab bahawa dirinya tidak berbuat atau tidak berkata apa-apa pun ketika menguruskan jenazah.
Selepas diasak dengan berbagai pertanyaan dan takut tangannya akan dipotong atau ditanam sekali dengan mayat, akhirnya wanita pemandi mayat itu berkata bahawa dia ada berkata :
“Berapa kalilah tubuh ini telah melakukan zina sambil menampar-menampar dan memukul-mukul berkali pada batang tubuh si mati”.
Imam Malik berkata : “Kamu telah menjatuhkan Qazaf (tuduhan zina) pada wanita tersebut sedangkan kamu tidak mendatangkan 4 orang saksi. Dalam situasi begini, di mana kamu nak cari saksi? Maka kamu harus dijatuhkan hukuman hudud 80 kali sebatan kerana membuat pertuduhan zina tanpa mendatangkan 4 saksi.”
Semasa wanita pemandi mayat itu dikenakan hukuman, bila tiba sebatan yang ke 80, maka dengan kuasa Allah SWT, terlepaslah tangannya dari mayat tersebut.
PENGAJARAN :
Jaga lidah jangan sebarkan fitnah. Jangan bersangka buruk dengan kuasa Allah Taala. Kalau kita tahu dia itu seorang pelacur sekalipun, tapi kalau kita tak pernah lihat perbuatan maka kita dilarang menuduhnya berzina. Diharap kisah Imam Malik dan Pemandi Mayat ini dijadikan sebagai tauladan dan ikhtibar. Kerana itu ingatlah, apabila kita membantu menyebar sesuatu perkara buruk dalam masyarakat,negeri atau negara, yang mana kita tidak menyaksi dan tiada saksi, maka tunggulah suatu hari, kita akan menerima balasannya, walaupun peristiwa berlaku. Berhati-hatilah semua dan jangan terjerat dengan jarum-jarum kejahatan.

Abu Raziq Al-Ansorullah

"Kisah Seorang Pelacur Yang Masuk Surga karena Menolong Anjing"


"Kisah Seorang Pelacur Yang Masuk Surga karena Menolong Anjing"

Karena sifat murah hatinya kepada binatang seorang wanita yang selama hidupnya melacurkan diri akhirnya masuk syurga. Kisah ini hendaknya menjadi teladan bagi kita semua agar jangan pernah putus asa, mengharap kasih sayang dan ampunan Allah SWT.
Pada zaman kenabian isa as, banyak terjadi kerusakan karena ulah kaisar romawi yang zalim. Kelaparan dan kemiskinan merajalela di negeri palestina. Berbagai cara dilakukan oleh rakyat terutama para kaum miskin untuk melawan kelaparan dan kemiskinan itu.
Seorang ibu terpaksa menjual anaknya seperti menjual pisang goreng. Perampokan, Pembunuhan, Penganiyaan tak kenal peri kemanusiaan lagi. Sementara ketika nabi isa menyampaikan dakwahnya kepada rakyat, tentara romawi selalu mengejar-ngejar Beliau.
Sesekali nabi isa mengumpulkan para orang miskin itu, dan membagi-bagikan roti dan gandum kepada mereka. Namun tak urung para tentara romawi terus menggusur dan menganiaya mereka.
Kehidupan rakyat sudah benar-benar tak menentu. Laki-laki banyak sekali yang meninggalkan rumah dan keluarga mereka, entah pergi kemana. Pelacuran Tumbuh dimana-mana, setiap orang harus mempertahankan dirinya dari serangan lapar.
Awal Kisah Seorang Pelacur yang Masuk Surga
Suatu ketika terlihat seorang perempuan muda berjalan serseok-seok seolah menahan rasa letih. Sudah terlalu jauh ia menyusuri sepanjang jalan, untuk mencari sesuap nasi.
Menawarkan diri kepada siapa saja yang mau, meski dengan harga yang murah, perempuan muda itu terlihat terlalu tua dibandingkan dengan usia sebenarnya. Wajahnya Kuyu di guyur penderitaan panjang.
Ia tidak memiliki keluarga, kerabat, ataupun sanak saudara lainya. Orang-orang sekelilingnya menjauhinya. Bila bertemu dengan perempuan tersebut mereka melengos menjauhinya karena jijik melihatnya.
Namun perempuan itu tidak peduli, karena pengalaman dan penderitaan mengajarinya untuk bisa tabah. Segala ejekan dan cacimaki manusia diabaikanya. Ia berjalan Dan Berjalan, seolah tiada pemberhentianya.
Ia tak pernah yakin, perjalananya akan berakhir. Tapi ia terus berusaha melenggak-lenggok untuk menawarkan diri. Namun sepanjang itu Sunyi saja, sementara panas masih terus membakar dirinya.
Entah sudah berapa jauh ia berjalan, namun tak seorangpun juga yang mendekatinya. Lapar dan Haus terus menyerangnya. Dadanya terasa sesak dengan nafas yang terengah-engah kelelahan yang amat sangat. Betapa lapar dan hausnya dia.
Akhirnya sampailah ia disebuah desa yang sunyi. Desa itu sedemikian gersangnya hingga sehelai rumputpun tak tumbuh lagi. Perempuan lacur itu memandang ke arah kejauhan. Matanya nanar melihat kepulan debu yang bertebaran di udara. Kepalanya sudah mulai terayun-ayun dibalut kesuraman wajahnya yang kuyu.
Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat itu. Ia Melihat sebuah sumur di batas desa yang sepi. Sumur itu ditumbuhi rerumputan dan ilalang kering yang rusak di sana-sini. Pelacur itu berhenti di pinggirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang sangat letih. rasa hauslah yang membawa ia ke tepi sumur tua itu.
Sesaat ia menjengukan kepalanya ke dalam sumur tua itu. Tak tampak apa-apa, hanya sekilas air memantul dari permukaanya. Mukanya tampak menyemburat senang, namun bagaimana harus mengambil air sepercik dari dalam sumur yang curam?
Perempuan itu kembali terduduk. Tiba-tiba ia melepaskan stagenya yang mengikat perutnya, lalu dibuka sebelah sepatunya. Sepatu itu diikatnya dengan stagen, lalu di julurkanya ke dalam sumur. Ia mencoba mengais air yang hanya tersisa sedikit itu dengan sepatu kumalnya. betapa hausnya ia, betapa dahaganya ia.
Air yang tersisa sedikit dalam sumur itu pun tercabik, lalu ia menarik stagen perlahan-lahan agar tidak tumpah, namun tiba-tiba ia merasakan kain bajunya ditarik-tarik dari belakang.
Ketika dia menoleh, di lihatnya seekor anjing dengan lidahnya terjulur ingin meloncat masuk kedalam sumur itu. Sang pelacur pun tertegun melihat anjing yang sangat kehausan itu, sementara tenggorokannya sendiri serasa terbakar karena dahaga yang sangat.
Sepercik air kotor itu sudah ada di dalam sepatunya. kemudian dia akan meneguknya, Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya sambil merintih.
Pelacur itupun mengurungkan niatnya untuk mereguk air itu. Dielusnya kepala hewan itu dengan penuh kasih. Si Anjing memandangi air yang berada di dalam sepatu, lalu perempuan itu meregukan air hanya sedikit ke dalam mulut sang anjing, dan perempuan itu pun seketika terkulai roboh sambil tangannya memegang sepatu.
Melihat perempuan itu tergeletak tak bernafas lagi, sang Anjing menjilat-jilat wajahnya, seolah menyesal telah mereguk air yang semula akan direguk perempuan itu. Pelacur itu benar-benar meninggal.
Pelacur Masuk Surga karena Ikhlas Menolong Anjing
Para malaikatpun turun kebumi menyaksikan jasad sang pelacur. Malaikat Raqib dan Atib sibuk mencatat-catat, sementara malaikat Malik dan Ridwan saling berebut. malik, si penjaga neraka sangat ingin membawa perempuan pelacur itu ke neraka.
Sementara Ridwan, si penjaga Syurga, mencoba mempertahankanya. Ia ingin membawa pelacur itu ke syurga. Akhirnya persoalan itu mereka hadapkan kepada ALLAH SWT. "Ya Allah, sudah semestinya pelacur itu mendapat siksaan di neraka, karena sepanjang hidupnya menentang larangan Mu. " kata Malik.
"Tidak ! " bantah Ridwan. Kemudian Ridwan berkata kepada Allah, " Ya Allah, bukankah hambaMu si pelacur itu termasuk seorang wanita yang ikhlas melepaskan nyawanya daripada melepaskan nyawa Anjing yang kehausan, sementara ia sendiri melepaskan kehausan yang amat sangat?"
Mendengar perkataan Ridwan, Allah lalu berfirman, " Kau benar, wahai Ridwan, wanita itu telah menebus dosa-dosanya dengan mengorbankan nyawanya demi makhlukKu yang lain. Bawalah ia ke syurga, Aku meridhoinya.."
Seketika malaikat Malik kaget dan terpana mendengar Firman Allah itu, sementara malaikat Ridwan merasa Gembira. Ia pun membawa hamba Allah itu memasuki surga. lalu Bergemalah suara takbir, para malaikat berbaris memberi hormat kepada wanita, sang hamba Allah yang ikhlas itu